Wonderful Testimonies of Amazing Laymen Ministries in Indonesia.
The 1000 Missionary Movement is a self-supporting organization formed by the North and South Asia Pacific Division of the Seventh-day Adventist Church. This movement is committed to support young people from various tribes and provinces in Indonesia in getting some training to prepare them to work as missionaries to the various cultural groups of people in the archipelago of more than 13,000 islands with a population of 240 million people, the majority of which profess Islam as their religion.
Pr. Sammy Lee had been asked to spend some time last year to help in training the enthusiastic youths who dedicated one year of their life to work as volunteer lay missionaries mostly in unreached areas by the Three Angels Messages, and continues to give moral and material support to this movement.
This movement was first started in 1992, with its headquarters in the Philippines. Up to the present they have trained more than 4000 missionaries who came from 54 countries and have been sent to more than 50 countries. The latest branch was established in Indonesia on the Island of Sulawesi, and a suburb called Tompaso II. They are working together with the local conferences in the West and East Indonesia Unions of the Seventh-day Adventist Church in Indonesia.
The director of the Indonesian 1000 Missionary Movement is Pr. Ji Sung Bae, and his assistant is Pr. Park Yun Gown, both from Korea. Pr. Ji and his family have been in Indonesia for 4 years, and they loved the country, people and especially their job in training the young people who dedicated their lives for one year to work as volunteer lay preachers in remote areas. Some of them even decided to work longer. They have done marvellous jobs there which resulted in hundreds of baptisms so far. Here are several of the amazing testimonies that they reported.
The Elisha Miracle – Naomi Resurrected
“Naomi…Naomi…Naomi wake up… Help… my daughter is dead…!!!” The hysterical cry pierced the silence of the village in the jungle of Papua. Jhoni Santos is a young man from Timor Leste who took part in the 1000 Missionary Movement training in Indonesia. Together with his friend Fernando Krey they were sent to work in an isolated village in the Indonesian Papuan jungle. At that moment Jhoni was giving Bible studies to a group of kids, while his friend, Fernando was playing with another group not far from that hut. They rushed to the hut and found the girl by the name of Naomi in a stiff condition, pale, cold and lifeless. She must have been dead for sometime when her mother found her still sleeping that morning.
Jhoni was a student of Economic studies, at the Mt. Klabat Adventist University in Manado, Indonesia. He just did not know what to do in that situation. If they take the body of the girl to the nearest clinic, it would take them 3 days just to reach the place. But that would not be of use, because the girl was already dead. Jhoni remembered the story of how Elisha resurrected a dead child, so he prayed in his heart: “Lord Jesus…I am only a sinner. But you are a mighty God who never changes. So please do something to this child.” Then she pick up the dead body and hug it tightly in his arms. All the people in the hut was dumbfounded and watched with amazement and in silence.
Jhoni and Fernando sang together, first What A Friend We Have In Jesus and then There Is Power In The Blood. Then they continued taking turns while one is singing the other prayed earnestly that God perform a miracle for them. This lasted for more than forty minutes. Suddenly Jhoni felt as if his heart stopped beating for a couple of minutes as he was stunned to hear the voice of Fernando who said excitedly, “this child is breathing again…!” Everybody crowed closer, hold the hands of the girl and touch her body, and sure enough she was alive and smiled at them. The little hut exploded with shouting and dancing, and they were praising God and singing with joy. “Our God is really wonderful and powerful! Praise the Lord!” everybody shouted with tears trickling down their cheeks.
Four weeks later while sleeping in the middle of the night, the silence was again broken with screaming of a hysterical mother. Jhoni and Fernando woke up and ran to the hut where the screaming came. When they arrived, there were a couple of witch doctors performing their rituals on the body of Naomi who had been quite ill the day before and apparently the mother decided to call the witch doctor as their custom among those superstitious people.
Jhoni shouted angrily to them, “What are you doing? Haven’t you understand the power of our God? How can you still believe in superstitious after you witnessed the power of Jesus?”
Both Jhoni and Fernando picked up the cold body of Naomi and hug it while singing hymns and praying that the Lord perform another miracle. They took turn in praying with all their hearts, with tears and confessing their sins. Jhoni prayed that he would rather die for Naomi if the Lord would not answer their prayers. This happened for two hours. Then suddenly while still praying Jhoni felt a finger poking his ribs. He kept on praying and singing asking God to perform the miracle or let him die. Again he felt a finger poking his side, and this time Jhoni opened his eyes to see who did that. He was shocked to find out that Naomi has opened her eyes was smiling at him and trying to rise her body up.
Naomi is still alive and well at this moment. But that is not the end of the story. Her uncle, Decky Suanso, was so impressed that he decided to join the 1000 Missionary Movement training to become a lay preacher too. He joined the 5th group which I helped trained for 1 week on how to work among Moslems and Buddhists. Pastor Ji Sung Bae went to the village to conduct a series of evangelistic meetings which resulted in the baptism of 47 people there. Praise the Lord, indeed for such amazing demonstration of His power!
KESAKSIAN AJAIB DARI GERAKAN ANGGOTA AWAM DI INDONESIA - NAOMI DIBANGKITKAN DARI KEMATIAN
Gerakan 1000 Missionaries adalah yang merupakan organisasi anggota awam yang dibentuk oleh Divisi Asia Pasifik. Gerakan ini berkomitmen untuk mendukung kaum muda dari berbagai suku dan propinsi di Indonesia dalam mendapatkan beberapa pelatihan untuk mempersiapkan mereka untuk bekerja sebagai misionaris ke berbagai kelompok masyarakat di Nusantara yang terdiri dari 13.000 lebih pulau-pulau dengan jumlah penduduk 240 juta orang, yang kebanyakan menganut agama Islam sebagai agama mereka.
Pr. Sammy Lee telah diminta untuk membagikan waktu dan talentanya pada beberapa tahun terakhir ini untuk membantu dalam pelatihan bagi para pemuda yang telah mendedikasikan satu tahun dari kehidupan mereka untuk bekerja sebagai sukarelawan misionaris di daerah yang belum terjengkau oleh Pekabaran Tiga Malaikat, dan terus memberikan dukungan moril dan material kepada gerakan ini.
Gerakan ini pertama kali dimulai pada tahun 1992, dengan kantor pusat di Filipina. Hingga saat ini mereka telah melatih lebih dari 4000 misionaris yang berasal dari 54 wilayah dan telah dikirim ke lebih dari kawasan.. Cabang yang terbaru di Indonesia didirikan di Pulau Sulawesi, dan dikampung yang bernama Tompaso II. Mereka bekerja sama dengan pemimpin setempat di Uni Barat dan Timur Indonesia dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Direktur 1000 Missionary Movement Indonesia adalah Pr. Ji Sung Bae, dan asistennya adalah Pr. Park Yun Gown, baik dari Korea. Pr. Ji dan keluarganya telah berada di Indonesia selama 4 tahun, dan mereka sangat mencintai negeri, serta penduduk dan pekerjaan mereka dalam pelatihan anak-anak muda yang mendedikasikan kehidupan mereka selama satu tahun bekerja sebagai pengkhotbah sukarelawan di daerah terpencil. Beberapa dari mereka bahkan memutuskan untuk bekerja lebih lanjut lagi setelah mengakhiri waktu setahun itu. Mereka telah melakukan pekerjaan menakjubkan yang mengakibatkan ratusan baptisan jiwa selama ini. Berikut adalah beberapa kesaksian yang luar biasa yang dilaporkan.
Mujizat Elia dalam kebangkitan dari Naomi
“Naomi … Naomi … Naomi bangun … Tolong, tolong… … putri saya sudah mati …!” Teriakan histeris memecahkan kesunyian dari desa di hutan Papua pada suatu pagi.. Jhoni Santos adalah pemuda dari Timor Leste yang ikut ambil bagian dalam Gerakan 1000 Missionary pelatihan di Indonesia. Bersama-sama dengan temannya Fernando Krey mereka dikirim untuk bekerja di sebuah desa terpencil di Indonesia ditengah hutan Papua. Pada saat itu Jhoni sedang memberikan pelajaran Alkitab Jhoni kepada sekelompok anak-anak, sementara teman-Nya, Fernando sedang bermain dengan kelompok lain yang tidak jauh dari pondok itu. Mereka berlarian ke pondok dari mana suara itu terdengar dan menemukan gadis dengan nama Naomi dalam kondisi kaku, pucat, dingin dan tak bernyawa. Dia telah dijumpai ibunya dalam keadaan mati ketika ibunya datang membangunkan dia pagi itu seperti biasanya.
Jhoni adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi pada Universitas Klabat di Manado, Indonesia. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam situasi itu. Jika mereka membawa gadis itu ke klinik terdekat, itu akan memakan waktu 3 hari untuk mencapai tempat tersebut. Tetapi itu tidak akan berguna, karena gadis itu sudah mati. Jhoni ingat cerita tentang bagaimana Elisa telah membangkitkan seorang anak yang sudah mati. Sebab itu dia berdoa dalam hatinya: “Tuhan Yesus … aku hanya seorang berdosa. Namun Anda adalah Allah yang besar yang tidak pernah berubah. Jadi lakukan sesuatu untuk anak ini. “Kemudian ia mengambil mayat itu dan memeluk dengan erat dengan kedua lengan. Semua orang di pondok itu tercengang dan menonton dengan kagum dan dalam keheningan.
Jhoni dan Fernando bernyanyi bersama, pertama Yesus Sahabat Terindah dan kemudian Ada Kuasa Dalam Darahnya. Kemudian mereka bergantian, kalau yang satunya menyanyi maka yang lainnya berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan bercucuran air mata meminta Tuhan melakukan keajaiban bagi mereka. Ini berlangsung selama lebih dari empat puluh menit. Tiba-tiba Jhoni merasa seolah-olah hatinya sendiri berhenti berdenyut selama beberapa menit karena ia terkejuta mendengar suara Fernando yang gembira berkata, “Hei, ini anak sudah bernapas lagi …!” Semua orang yang mengerumuninya dantang untuk memegang tangan gadis itu dan menyentuh tubuhnya dengan keheranan, dan benar saja dia sudah hidupkembali dan tersenyum pada mereka. Pondok kecil itu meledak dengan suara sorak-sorai dan orang-orang menari, dan mereka memuji Tuhan Allah dan bernyanyi dengan gembira. “Tuhan kami benar-benar indah dan handal! Puji Tuhan! “Semua orang berseru dengan air mata mengalir kebawah pipi mereka.
Empat bulan kemudian ketika sedang tidur di tengah malam, kesunyian telah rusak lagi dengan teriak histeris seorang ibu. Jhoni dan Fernando bangun dan berlari ke gubuk dari mana teriakan datang. Ketika mereka tiba, ada beberapa dukun sedang mereka melakukan upacara mantera-mantera di tubuh Naomi yang telah sakit sehari sebelumnya sehingga ibunya memutuskan untuk memanggil para dukun dikampung itu sebagai adat mereka di antara orang-orang yang masih percaya tahyul itu.
Jhoni berseru dengan marah kepada mereka, “Apa yang kamu buat? Apakah kamu belum memahami kuasa Allah kita? Bagaimana kamu masih percaya takhyul setelah menyaksikan kuasa Yesus? “
Jhoni dan Fernando mengangkat tubuh yang dingin dari Naomi dan memeluknya sambil mereka bergantian menyanyi dan berdoa supaya Tuhan melakukan mujizat lagi. Mereka menghimbau semua berdoa dengan sepenuh hati mereka, dengan bercucuran air mata dan mengaku dosa-dosa mereka. Jhoni berdoa bahwa dia akan lebih rela mati untuk Naomi jika tidak Tuhan akan mengabulkan doa-doa mereka. Hal ini terjadi selama dua jam. Kemudian tiba-tiba sambil terus berdoa Jhoni merasa ada jari yang menusuk tulang rusuknya. Dia terus berdoa dan bernyanyi meminta Allah untuk melakukan mujizat atau membiarkan dia mati. Sekali lagi ia merasa sebuah jari menusuk pada sisinya. Dan saat ini Jhoni membuka matanya untuk melihat siapa yang melakukannya. Dia terkejut ketika mengetahui bahwa Naomi telah membuka matanya dan sambil tersenyum padanya berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Jhoni dan dan mencoba untuk bangkit berdiri.
Naomi masih hidup dan baik sampai saat ini. Tetapi itu bukan akhir cerita. Pamannya, Decky Suanso, begitu terkesan akan kejadian ini sehingga ia memutuskan untuk bergabung dengan 1000 Missionary Movement untuk mengikuti pelatihan menjadi pengabar injil sukarela. . Dia bergabung dengan kelompok 5. Kebetulan saya termasuk salah satu yang turut memberikan latihan kepada kelompok itu selama 1 minggu tentang cara untuk bekerja di antaraumat Islam dan Buddha. Pastor Ji Sung Bae kemudian datangi ke desa itu untuk melakukan serangkaian KKR yang menghasilkan baptisan 47 orang di sana. Puji Tuhan, sungguh luar biasa kuasa Allah, dan betapa Dia tidak berubah dan menepati janjiNya asal kita setia dan berserah sungguh-sungguh kepadaNya.